Family, Pregnancy, Thoughts

My Pregnancy Diary – The Last Leg of Pregnancy (34 – 39 Minggu)

Helloooo
semua! Duh, akhirnya bisa update blog lagi setelah sekian lama. Kok bisa? Well,
akhirnya yang ditunggu-tunggu datang! Tapi sebelum sharing cerita yang paling
fenomenal dalam hidup saya, saya mau berbagi cerita tentang 5 minggu terakhir
kehamilan Baby R. Oke karena terlalu lama, jadi saya coba ingat-ingat yaaa.

Baca : My Pregnancy Diary – Memasuki Trimester Tiga

Kontrol
ke 11 saya lakukan pada tanggal 12 Januari 2017. Saat ini kandungan saya sudah
berumur 35  minggu 1 hari. Mulai
deg-degan sih karena HPL diperkirakan tanggal 15 Februari, berarti dalam kurang
lebih sebulan, saya akan punya anak!
Saat diperiksa, semuanya alhamdulillah
normal dari BB Ibu (meskipun naik 1.5 kg dari 2 minggu yang lalu hahaha),
tekanan darah Ibu dan kondisi janin. Berat janin masih 2.2 kg dan tergolong
wajar. Setelah kontrol ini, saya diharapkan kontrol seminggu sekali ke dr.
Gharini karena minggu depan sudah masuk umur kehamilan 36 minggu. Hmmm makin
deg-degan sih, in a good way.

My Pregnancy Diary – The Last Leg of Pregnancy (34 – 39 Minggu)

Inilah bagian pengukuran USG. FYI ada EFW (Estimated Fetal Weight) = perkiraan bobot janin, EDD (Estimated Date of Delivery) = HPL atau Hari Perkiraan Lahir, BPD (lupa kepanjangannya) = diameter kepala bayi, AC (lupa juga kepanjangannya hahaha) = lingkar perut dan FL (Femur Length) = panjang tulang paha

Kontrol
berikutnya dilakukan pada tanggal 19 Januari 2017. Saya masih kontrol di RB
Azzahra dengan dr. Gharini karena tinggal jalan dari rumah hahaha. Saking
seringnya bolak-balik, Bapak pengatur lalu lintas yang hobi joget itu (yang orang Bogor pasti
tau) sampai hafal karena sering bantu nyebrangin pertigaan Jl. Sancang-Lodaya-Kumbang.
Ya, saya kontrol di RB Azzahra juga karena waktu itu Arga sering banget dinas
pada bulan Januari. Daripada sendiri cape nyetir ke Hermina Bogor dan melewati
kejamnya Jl. Soleh Iskandar (alias Jl. Baru), mendingan saya jalan saja ke RB
terdekat.

Pada
kontrol kali ini, BB saya menurun hampir 1.5 kg. Eh, tapi janin saya beratnya
jadi 3 kg HAHAHAHAHAHA. Berarti efisien ya semuanya diserap Baby R. Untuk umur
36 minggu, berat janin cukup besar karena menyerupai umur kandungan 37 minggu.
Disini saya sudah jarang minta print USG karena yaaa yang diprint hanya tulang
femur (tulang paha) dan lingkar kepala. Abstrak banget wkwkwk! Mulai disini,
dr. Gharini mengatakan bahwa Baby R belum masuk panggul dan sudah mulai ada
pengapuran di plasenta. Memang sudah waktunya ada pengapuran karena hal ini
lazim terjadi ketika akan memasuki akhir dari kehamilan, jadi jangan khawatir
ya kalau hal ini terjadi. Pengapuran di plasenta saya masih tergolong wajar dan
ketuban masih cukup meskipun sudah lumayan sempit ruang geraknya. Tapi
alhamdulillah sehari-hari Baby R masih aktif nendang, uget-uget dan cegukan.

My Pregnancy Diary – The Last Leg of Pregnancy (34 – 39 Minggu)

USG Baby R pada minggu ke 36

Kontrol
berikutnya pada tanggal 26 Januari 2017 pada usia kandungan 37 minggu, saya
masih kontrol sendiri hahahaha. BB saya meningkat sedikit dan berat badan janin
menjadi 3.2 kg. Kondisi terakhir Baby R adalah masih belum masuk panggul hiks.
Setelah melihat keadaan bayi, ternyata Baby R posisinya terlentang alias
menghadap ke perut Ibu. Dalam bahasa medis, kondisi tersebut adalah kondisi
occiput posterior
. Normalnya pada usia segini, bayi dalam posisi tengkurap atau
menghadap ke tulang ekor Ibu. Hal ini menyebabkan dr. Gharini masih ragu-ragu
dengan kemampuan saya untuk melahirkan normal. Masih bisa namun kemungkinannya
50-50. Duh mulai galau… Dr.Gharini menyatakan bahwa jika melahirkan normal
dan posisi tidak berubah, kepala bayi masih bisa melewati panggul atas namun
akan ada masalah ketika akan melewati panggul tengah karena bahu akan
tersangkut. Dalam posisi stuck itu, maka harus divacuum dan itu akan
menimbulkan resiko trauma di bayi maupun Ibu. Ketika saya ceritakan ke Arga,
Arga sih langsung pengen SC saja karena mengurangi resiko sementara saya masih
pengen normal di lubuk hati terdalam hehehe. Ya berdoa, berusaha dan berharap
saja deh ya.

Baca : My Pregnancy Diary – Trimester Kedua

My Pregnancy Diary – The Last Leg of Pregnancy (34 – 39 Minggu)

USG Baby R di usia 37 minggu

Karena
dihadapi dengan kondisi 50-50 untuk melahirkan normal, saya memutuskan untuk
mencari second opinion ke dokter kandungan lainnya. Pilihan saja jatuh untuk
menemui dr. Farah Dina karena beliau juga praktek di Hermina (tempat saya akan
melahirkan). Plus beliau bisa melakukan pemeriksaan 4D. Tapi lumayan susah ya
cerita saya bertemu dokter yang satu ini hahaha. Setelah ke RB. Nuraida di
Bangbarung kehabisan nomer dan beberapa hari kemudian dokternya tidak praktek
plus sudah menelpon RSIA Bunda Suryatni ternyata antriannya WOW, akhirnya
ketemunya di RS Hermina juga hahaha. Hal ini diwarnai dengan miskom saya dengan
operator Hermina. Si mbaknya konfirmasi di telpon saya nomer 17 tapi ternyata
saya nomer 7 -_- untungnya pas saya datang, menunggunya tidak terlalu lama.

My Pregnancy Diary – The Last Leg of Pregnancy (34 – 39 Minggu)

BABY R IN 4D! Terlihat mata dan alis di kiri dan di kanan cuman keliatan bibir karena Baby R nutupin hidungnya hahahaha

Saya
kontrol pada tanggal 1 Februari di usia kandungan 38 minggu. First impression
saya terhadap dr. Farah Dina adalah CANTIK! Udah cantik, supel, ramah bangeeet,
calming dan pintar. Dokter ini juga pro normal, jadi mungkin kehamilan kedua
bisa sama dr. Farah kali ya hehehehe. Setelah diliat BB dan tekanan darah Ibu
normal, saya langsung cerita riwayat kehamilan saya. Akhirnya disuruh langsung
check pake 4D, deg-degan juga ya karena pertama kali. Alhamdulillah, pas diliat
di USG 4D bayi saya sehat dan sempurna. Detak jantung juga bagus. Pas ingin
diliat mukanya, ternyata Baby R suka nutupin hidung dan mulut hahahaha. Jadi
hanya terlihat mata yang merem dan alis. Mirip saya matanya wkwkwk. Saya
terharu banget loh saat itu alhamdulillah di akhir persalinan Allah masih
memberikan saya dan Baby R kesehatan. BB janin saat itu 3.4 kg, wow. Dokter
Farah menjelaskan bahwa itu bisa berarti bayi saya rentang BBnya adalah dari
3.1 hingga 3.7 kg, so big! Kesimpulan dr. Farah masih sama dengan dr. Gharini
yaitu kondisi saya melahirkan normal 50-50. Namun dr. Farah terus optimis dan
memberikan cerita-cerita melahirkan normal dengan kondisi seperti saya. Ya,
bismillah saja deh. Allah pasti tau yang terbaik untuk saya dan Baby R.

Oiya, sebaiknya kalau ingin check USG 4D dilakukan pada saat umur kehamilan 18-22 minggu yaaa kata beberapa dokter obgyn. Jangan terlalu tua seperti saya hahaha karena kalau terlalu tua sudah terlalu sempit ruang gerak di rahim. 

Baca : My Pregnancy Diary – Finally Bogor!

Seharusnya
tanggal 4 Februari saya kontrol ke dr. Gharini dan dilanjutkan dengan
mendatangi pesta pernikahan Desy dan Engga. Udah seneng-seneng dapet antrian
nomer 1 pada hari itu, eh pada hari Jumat saya ditelp Hermina karena dr.
Gharini tidak praktek. OK BAIKLAH. Saya fokus datang ke kondangan sajah
hahahaha. Akhirnya saja menjadwal ulang kontrol ke dr. Gharini menjadi tanggal
7 Februari 2017 di RS Hermina. Kali ini saya kontrol di klinik eksekutif di
lantai 5 loh, mevvah deh. Dapat snack dan free wifi meskipun lebih mahal 90
ribu dari harga poliklinik biasa hahaha.

Setelah
BB dan tensi diukur, saya menunggu dokter untuk datang. Pada minggu ini usia
kandungan saya sudah 39 minggu dan saya harap-harap cemas apakah posisi janin
sudah benar atau belum. Pokoknya saya sudah rajin senam hamil, sujud,
jongkok-berdiri, jalan cepat, you name it! Akhirnya pas diperiksa oh sayang
beribu sayang, posisi bayi masih occiput posterior dan belum masuk panggul hiks. Berat bayi juga
sekitar 3 kilo dan karena sudah 39 minggu akhirnya saya diperiksa “dalam”.
Periksa “dalam”
adalah ketika bagian “dalam” tempat mau keluarnya bayi
diperiksa. Rasanya? Weirdly uncomfortable!! Hal ini dilakukan untuk mengecheck
bukaan dan kondisi cerviks atau leher rahim. Ternyata….

Ketika tangan dokter menyentuh kelapa Baby R, bukannya makin turun mendekati leher rahim tapi malah naik

Saya ternyata sudah bukaan 1.

Cerviks alias leher rahim saya sudah menipis.

Dr. Gharini memutuskan bahwa malam itu juga saya sudah harus masuk ruang
observasi alias saya harus melahirkan dan tidak boleh pulang lagi.

OH MY GOSH.

Bagaimana kelanjutannya? Tunggu postingan berikutnya ya guys! (Semacam sinetron hahaha)

RELATED POST

2 Comments

  1. Assalamu’alaikum mba sama dr.gharini gmna? Enak aja ga, saya rncana mau ganti RS, sblumnya di PMI tapi asa jauub bgt dri rumah jdi mw ke hermina aja. Oh iya biaya di hermina brpa ya termasuk biaya dokter,usg sama vitamin nya? Makasih byk mba sebelumnya

    1. Faradila D. Putri says:

      Hello mbak 🙂 Alhamdulillah saya cocok dengan dr. Gharini tapi sebelum datang sebaiknya siapkan list pertanyaan. Soalnya kalau tidak ditanya kadang-kadang dokternya tidak memberi tau karena banyak pasien hehehe. Hermina ada dua kelas, yang poliklinik reguler sama eksekutif. Yang reguler untuk dokter klo tidak salah sekarang 180an. USG dan vitamin nanti tergantung dokter dan tergantung 2D atau 4D 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.