Family, How To, Parenting, Thoughts, Tips

Realita Bullying: A Brief View of Our Experience

Siapa disini yang pernah dibully? Saya pernah. It was an experience I remember for my whole life. Kenapa sih kok tiba-tiba ngomongin bullying, Dil? Well, this is something that I want to write about for a while, plus saya melihat video di Facebook yang menurut saya cukup powerful (tetap baca yaaa untuk tau video apa, beda dari yang lain deh!).

Menurut infographic CCN Indonesia, bullying adalah tindakan penindasan yang dilakukan seseorang atau sekelompok orang kepada orang atau kelompok lainnya. Kriteria perilaku bullying adalah adanya kekuatan yang tidak seimbang, berulang dan sudah diatur sebelumnya. Berarti kalau cuman sekali, bukan berarti bullying ya.

Bullying bisa dibagi menjadi beberapa jenis, yaitu :

Realita Bullying: A Brief View of Our Experience

Tipe bullying yang pernah saya hadapi adalah Relational Agression. Baik ketika saya sekolah di Gainesville maupun di Bogor. Sadly, the bullying happened while I was in elementary school. Iya anak SD udah pinter bullying loh sejak tahun 90an (ketauan deh umurnya). Rasanya ga enak banget! Macam-macam sih alasan untuk bullying, dari mencari kesalahan saya di cara ngomong, cara berpakaian, dan sebagainya. Alhasil, I became so self-conscious. Rasa PD lama-lama hilang.

Pernah juga saya diajak ikut geng (alah, masih SD juga hahaha) tapi ditolak karena ada seseorang yang ga setuju. Saya masih inget kok orangnya siapa. Hahaha sekarang sih ketawa aja lah yaa inget kelakukan anak SD. Tapi tipe bullying kaya gini berjalan sampai SMA dan kuliah. Pas SMA, ada segerombolan yang jelas-jelas mengasingkan saya, sampai ngirim message di Friendster atau Facebook (lupa yang mana, lagi-lagi terlihat umur ya hahaha) yang terang-terangan bilang kalau mereka ga suka saya. Padahal salah satu alasan sih karena saya ga mau bantu mereka di pelajaran Bahasa Inggris. Bzt.

Pas kuliah sih cuman kesenggol rumor aja. Rumor kalau nilai yang cemerlang di dapatkan dari bocoran soal. Karena Bapak saya juga dosen di jurusan yang sama. Resiko sih tapi HAHAHAHA NGAKAK AJA DEH YA. Masa sampai mata kuliah departemen lain dapet bocoran juga hihihi mengarang indah!  Fufufu.

Ternyata saya tidak sendiriiii! Dari hasil survey yang saya lakukan sebelum menulis tulisan ini, dari lebih dari 70 responden, sebanyak 75% pernah mengalami bullying. Tipe bullying yang pernah mereka terima adalah :

Realita Bullying: A Brief View of Our Experience

Ternyata semuanya mayoritas mendapatkan bullying waktu SD! Duh, gusti. Sadly, I am not alone in this one. Berikut hasil lengkapnya kapan saja para responden menerima bullying. Bahkan ada yang di bully di lingkungan rumah sendiri. Hiks.

Realita Bullying: A Brief View of Our Experience

Gimana sih cara mengetahui seseorang itu sedang mengalami bullying? Seseorang akan cenderung menarik diri, kehilangan pertemanan, nilainya akan turun drastis, dan tiba-tiba hilang minat di aktivitas yang dulu dia suka lakukan. Kalau sudah megacu ke bullying secara fisik, terlihat baju yang robek dan bahkan luka lebam.

Reaksi mereka saat di bully? Macam-macam hahaha. Mayoritas sih akan membiarkan dan mendiamkan saja. Namun tidak sedikit yang menangis dan membalas perlakuannya. Ada juga yang menjadikan bullying itu motivasi, supaya bisa lebih baik lagi. Lebih lengkapnya silahkan liat tabel dibawah ya. 

Realita Bullying: A Brief View of Our Experience

Kalau saya waktu dulu? Saya memilih diam dan membiarkan ocehan-ocehan itu berlalu. Toh ada kata-kata “Stick and stones may break my bones, but words will never hurt me (physically)”. Asal ga main fisik, ya saya menguatkan mental biar ga ngedown.

Pernah ngedown ga? Pernah dong. Ternyata kata-kata tuh bikin sakit hati ya *nyesss*. Saya pernah memasuki fase super tidak PD (sekitar SMP dan awal SMA). Cara memperbaikinya? Ngobrol sama orang tua. Ada perkataan Bapak saya yang sampai sekarang melekat di pikiran saya. 

“Kamu itu jangan malu, harus PD. Kamu sudah dikasih rejeki sekolah 4 tahun di US, ga semua orang punya kesempatan itu. That’s your advantage. Jangan merasa kecil hati ya”. 

It works. Alhasil setiap ada yang bullying saya secara relational, alias menyebarkan hoax dan mengucilkan, saya ingat kata-kata itu. Kemudian jadi cuek deh. Terus si bully(-ies) capek sendiri karena saya menikmati hidup dan berteman dengan orang-orang yang jauuuuuh lebih baik. Ga percaya bully akan capek sendiri? Tonton aja video di bawah ini. SO TRUE!

Sebagian orang mengangap bahwa bullying itu adalah aib yang harus disembunyikan, jadi mereka malu mengakui kalau mereka sedang di bully. IT IS NOT YOUR FAULT. Seorang bully tuh pengen kekuasaan, jadi mereka senang kalau kita ikut permainannya. Now is the time to speak up, sekarang sudah bukan jamannya lagi untuk diam. Diam bukan pilihan. Segera laporkan ke guru, orang tua atau bahkan pihak berwajib jika sudah melewati batas. Takut diincar? Tenang, ada LPSK (Lembaga Perlingungan Saksi dan Korban) yang siap menjaga kalian. Lembaga tersebut bertanggung jawab untuk menangani pemberian perlindungan dan bantuan pada Saksi dan Korban. Sudah diatur dalam Undang-Undang juga.

Ada beberapa hal yang bisa orang tua lakukan untuk meredam efek bullying pada anak-anak, just like my dad did. Menurut theAsianparents, hal-hal tersebut adalah

  • Ajarkan anak kita untuk menyelesaikan masalah tanpa kekerasan
  • Memberikan feedback positive apabila anak berperilaku baik
  • Dengarkan cerita anak tentang kesehariannya dan masalahnya (jika ada)
  • Jika ada indikasi bullying, lakukan intervensi dan usahakan untuk menghentikannya.
  • Dukung anak untuk menolong sesama.
  • Jangan membully anak atau orang lain di depan anak, mereka akan mencontoh loh!

Nah bagaimana kalau anak kita sendiri yang merupakan pelaku? Jeng jeng jeeeng. Nah menurut theAsianparents, kita bisa melakukan hal-hal sebagai berikut : 

  • Ajak anak untuk mengobrol agar kita dapat mengetahui kenapa dia melakukan pem-bully-an. Kadang si bully merasakan perasaan sedih, kesal, marah, kesepian bahkan insecure. Hanya mereka tidak bisa mengekspresikannya dengan baik dan malah berakhir membully anak lain.
  • Komunikasikan dengan guru di sekolah tentang kondisi anak.
  • Tanya pendapat dan saran guru atau pembimbing mengenai langkah yang tepat untuk mengatasi masalah tersebut.
  • Introspeksi diri dan melihat apakah ada yang membully anak di lingkungan rumah, termasuk memfilter tontonan. Survey yang dilakukan oleh Kompas memperlihatkan bahwa 56,9% anak meniru adegan film atau sinetron yang ditontonnya. Secara umum mereka meniru gerakan (64%) dan perkataan (43%).

Wah, sebagai ibu tentu kita tidak mau kan ya anak kita menjadi korban apalagi pelaku bullying.

Bullying turns into crime when it threatens someone’s life.

Maka dari itu, yuk sama-sama menciptakan suasana yang nyaman, aman dan tentram bagi semua. Biarlah para pelaku bully minggir dan berikanlah efek jera jika sudah melewati batas. Nah kalau kamu, bagaimana cara menghadapi bully? Silahkan komen di bawah ya. 

RELATED POST

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.