Uncategorized

My Pregnancy Diary – Trimester Kedua & Tabel Perhitungan HPL

Hello all! Maaf sudah hampir seminggu tidak menulis di blog atau aktif di instagram. Sometimes we need that off time in social media and become a silent reader hahaha. Kali ini saya akan membuat rangkuman trimester kedua saya, yang baru selesai beberapa minggu yang lalu 🙂


Kondisi Ibu

Secara umum, saya menghabiskan trimester kedua saya di Bogor. Saya masih tinggal di Pondok Mertua Indah, sehingga lebih menyenangkan karena ada orang tua yang menemani (atau saya yang menemani orang tua ya? haha). Kondisi saya di trimester kedua = sudah cukup sehat untuk makan banyak 😀
Saya masih bolak-balik ke kampus IPB karena harus menjadi asisten praktikum satu mata kuliah. Saya juga masih menyetir sendiri karena meskipun jarak dari rumah yang di kota ke kampus yang di area Dramaga hanya 10-12 kilometer, tapi jarak tempuhnya bisa 45 menit (kalau beruntung) hingga 1.5 jam *hiks*.

Kemacetan Dramaga Bogor via Jl. Raya Dramaga (jalan depan menuju IPB). So crazy! Kiri kearah kampus, kanan kearah Bubulak/Kota. Makanya saya bersyukur rumah masa depan berada di dekat jalan belakang menuju IPB :’) Photo courtesy of Masyarakat Cinta Bogor

Selain masih sibuk sana-sini nyetir sendiri sebelum perut menyentuh stir mobil, saya juga sibuk melihat dan mengawasi konstruksi rumah masa depan :)) Oiya, sama mengerjakan pekerjaan ibu rumah tangga (as usual). Olahraga yang saya lakukan selama trimester kedua adalah tidur hahahaha. Selain itu, saya sering jalan-jalan (diajak Arga maupun jalan-jalan di kampus atau mall :p) dan berenang sekitar dua atau tiga minggu sekali. Pernah sekali-sekali melakukan yoga dan senam hamil, tapi masih via youtube di rumah. Saya juga pernah ikut yoga festival (nanti akan dipost reviewnya) dan dapat voucher senam hamil gratis yang akan dipakai nanti ketika sudah 30 weeks keatas.

Intinya saya disarankan untuk tidak mengurangi aktivitas oleh Mama saya. Mama saya bilang bahwa ibu hamil kan bukan orang sakit, asal jangan dipaksa melakukan aktivitas yang berat. Yaa jadi semua seperti biasa saja, tapi jadi gampang capek ya hahaha. Biasanya bisa multitasking kemana-mana keliling Bogor seharian, eh sekarang setengah hari aja badannya udah minta bobo siang :p Alhamdulillah saya tidak mengalami flek atau kondisi yang membahayakan pada masa ini, jadi semua aktifitas di teruskan (kecuali nyetir jarak jauh – gampang pegal dan capek)!

Photo courtesy of  www.pinterest.com


Kondisi Bayi

Saya melakukan pemeriksaan rutin di RB Azzahra dan diperiksa oleh dr. Gharini SpOG. Saya melakukan pemeriksaan rutin setiap bulan atau 4 minggu agar dapat mengetahui perkembangan janin dengan baik. Arga juga selalu semangat menemani meskipun kadang nunggunya lama dan dia sampai ngantuk-ngantuk, thank you Ay! Tips buat yang ingin periksa kandungan : minum air yang banyak dan tahan pipis sebelum di USG. Katanya bisa membuat gambar hasil USG lebih jelas.

Kontrol trimester kedua yang pertama jatuh pada tanggal 27 Agustus 2016. Menurut HPHT saya, seharusnya umur kandungan 15 minggu 3 hari. Tapi pas di check menurut ukuran bayi, ternyata lebih besar seminggu! Menurut ukuran lingkar kepala, lingkar perut dan panjang tulang paha, Baby (nama panggilan si kecil) seukuran janin berumur 16-17 minggu. Berat badan saya naik 1.5 kg dari minggu sebelumnya jadi masih normal dan tidak harus diet.

Tulang paha (kiri) dan kepala (kanan). Kurang jelas ya kayanya kurang minum hehehe

Kontrol selanjutnya adalah tanggal  1 Oktober 2016. Baby seharusnya berumur 20 minggu 3 hari tapi lagi-lagi ukurannya lebih besar 1-2 minggu hahahaha. Tapi saya tenang karena berat badan saya naik 2 kg dalam sebulan, masih normal. Pada pemeriksaan kali ini, dokter Gharini sudah dapat melihat jenis kelamin Baby. Sayangnya pas dicheck masih malu-malu jadi belum bisa mendapatkan kesimpulan ini bayi laki-laki atau perempuan. Meskipun dokter menebaknya sih laki-laki.

Tulang paha (kiri) dan kepala (kanan). Baby, you have a big head! Semoga pinter dan cerdas yaaa 🙂

Kontrol terakhir untuk trimester kedua adalah pada tanggal 1 November 2016. Kali ini saya pergi sendiri karena Arga sedang dinas di luar kota. Hmm, ga enak juga ya nunggu dokter sendiri. Tadinya Mama ingin ikut tapi terlalu ngantuk hahaha. Ya maklum ngantri dokter kandungan di Bogor harus penuh perjuangan. Baby seharusnya berumur 24 minggu 6 hari tapi tetap ya konsisten dengan minggu-minggu sebelumnya. Baby ukurannya lebih besar 1-2 minggu. Berat bayi juga sekitar 1.2 kg, sangat meningkat dari berat sebelumnya. Berat Ibunya juga meningkat 2.5 kg hahahaha. Kali ini saya dan dokter dapat melihat jelas jenis kelamin Baby. Sudah yakin deh dia laki-laki atau perempuan 🙂

Kepala (kiri) dan tulang paha (kanan). This baby is getting bigger!

Selama pemeriksaan, saya hanya diberikan vitamin Folamil Genio, Prolacta DHA (tambahan DHA) dan penambah kalsium. Untuk penguat kandungan hanya sampai 20 minggu saja, setelahnya tidak usah minum lagi (hore! jadi lebih murah harga vitamin!). Beberapa kendala yang saya alami adalah air ketuban yang sangat ngepas, terutama pada minggu 12-20. Saran dari dokter adalah untuk meminum minimal 1.5 L air putih, susu dua kali dan jus buah sekali dalam sehari. Saya juga meminum air kelapa (ijo atau muda, yang penting kelapa) dua hingga tiga kali seminggu. Alhamdulillah saat pemeriksaan 24 minggu air ketuban saya sudah OK!

Concern yang lain adalah pada 24 minggu dokter melihat bahwa plasenta saya tiba-tiba menurun posisinya. Lumayan was-was sih, cuman kok ga ada kendala plasenta turun ya (seperti pendarahan kalau melakukan kegiatan yang sedikit berat). Dokter hanya menyarankan tidak boleh angkat yang berat-berat, berjalan terlalu jauh dan berhubungan badan dulu dengan suami. Selebihnya semua baik-baik saja, alhamdulillah.


Mengapa HPL atau EDD (Estimated Due Date) dapat berubah-ubah?
Jika dilihat dari patokan HPHT saya, seharusnya HPL saya (40 minggu – waktu untuk bayi keluar) adalah 15 Februari 2017. Namun, USG mempunyai perhitungan estimasi HPL yang dilihat dari ukuran dan estimasi berat bayi. Semakin besar bayi, menandakan semakin tua umur kandungan sehingga HPL bisa maju atau bahkan bisa mundur jika ukuran atau berat bayi kurang dari standar usia kandungan. Selama ini HPL saya berkisar antara tanggal 13 Februari, 9 Februari dan 6 Februari. Ya HPL tidak bisa menjadi patokan karena hanya 5% bayi yang lahir sesuai dengan HPL. Sisanya kalau ga maju ya mundur. Yang penting siap-siap saja kalau sudah memasuki bulan Februari. My baby is coming! 🙂

Tabel perhitungan HPL menurut HPHT. Photo courtesy of  FARMASI-ID.COM

PS : Kadang estimasi ukuran dan berat bayi juga berbeda-beda loh antar USG. Masing-masing USG memiliki perhitungan sendiri dan harus dikalibrasi agar sesuai. Menurut teman saya, kadang juga terdapat selisih 10% antara berat bayi di USG dengan berat bayi yang sesungguhnya. Jadi bagaimana menentukan HPL yang paling tepat? Teman saya (yang juga sedang hamil), HPL yang paling mendekati akurat adalah HPL yang dicheck USG ketika bayi berumur 10-12 minggu. Kalau masih bingung, lebih baik siap-siap dari satu bulan sebelum HPL. Semua baju, peralatan masuk RS dan perlengkapan administrasi diharapkan sudah selesai dan siap dipacking saat memasuki bulan ke 8 atau 9. Lebih baik jaga-jaga kan jika tiba-tiba bayi ingin memberikan kejutan lebih cepat ke ibu bapaknya 😀

You may also like...

Leave a Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *