Uncategorized

My Pregnancy Diary – Baby (Super Early) First Trip

image

photo courtesy of freepik.com

Bersambung dari cerita sebelumnya, saya dan Arga berada di Lombok pada saat bulan puasa. Secara umum, saya hanya merasakan pusing dan mual pada pagi menuju siang hari. Saya ikut puasa seperti biasa karena kalau saya tidak puasa, maka makanan akan muntah semua 🙁 Agak sulit juga mencari makanan dekat rumah karena semua warung tutup, jadi ya alhamdulillah saja bisa ikut berpuasa untuk meredakan rasa mual. Menjelang sore hari saat buka puasa, duh minta ampun deh pengen macem-macem hahaha. Andalan saya waktu itu adalah spaghetti KFC dan kebab ala Selong. Semacam bule ya hahaha karena saat itu saya tidak suka melihat nasi dalam jumlah yang banyak. 

image

Maunya makan ini terussss pas di Lombok! photo courtesy of kfcku.com 

Mungkin memang sudah rezeki bayi bahwa setelah Lebaran, Arga akan mulai bekerja dari Jakarta atau Purwakarta yang merupakan HO dari perusahaan tempat dia bekerja. Maka, setelah kami mudik dan menghabiskan waktu Lebaran di Madiun, kami akan langsung tinggal di rumah orang tua saya di Bogor sambil mencari rumah. Pada tanggal 1 Juli jam 5 sore, akhirnya saya dan Arga meninggalkan Lombok untuk mudik ke Madiun.

Jalur yang ditempuh adalah pesawat Lombok-Surabaya dan jalur darat Surabaya-Madiun. Pleaseeee for early term pregnant woman, don’t try this if you have complications during your early pregnancy. Saya belum terlihat hamil, jadi saya nekad saja naik pesawat karena waktu saat itu masih sangat awam dan belum tau umur kehamilan berapa bisa naik pesawat hahahaha. Alhamdulillah saat awal kehamilan, saya tidak flek dan hanya mengalami pegal-pegal di perut saja. Namun, baiknya dikonsultasikan dulu ke dokter kandungan apabila ingin berpergian di awal kehamilan. Trimester pertama merupakan trimester paling rentan untuk keguguran janin, jadi harus sangat dijaga yaa terutama bagi yang punya masalah kehamilan sebelumnya. Saya sih modal bismillah dan berserah ke Allah SWT saja. 

Sejujurnya, penerbangan Lombok-Surabaya merupakan bagian yang termudah dalam perjalanan ini hahahaha. Bagian tersulit muncul untuk jalur darat Surabaya-Madiun yang biasa ditempuh kurang lebih 4 jam. Saya dan Arga dijemput Mama dan Bapak Madiun (mertua saya) di bandara. Senangnya dibawakan bekal nasi dan ayam juga :)) Setelah dijemput, kami kemudian menjemput Indra, adiknya Arga, untuk sekalian pulang bersama ke Madiun. Jalur darat ternyata tidak semulus jalur udara, saudara-saudara. Sepertinya jalan agak bergelombang dan perut saya agak sakit sehingga susah untuk tidur di jalan 🙁 Alhamdulillah kami sampai di Madiun sekitar tengah malam. Semua langsung beristirahat alias tepar.

2 Juli 2016

Arga dan saya memutuskan untuk mencari dokter kandungan untuk mengecheck kondisi bayi di perut. Sayangnya, hari itu adalah hari Sabtu sebelum Lebaran, dimana sangat susah untuk mencari praktek dokter kandungan yang buka di Madiun. Kami memutuskan untuk pergi ke RS dr. Soedono, Madiun. Lagi-lagi dokter kandungan sudah tidak praktek dan RS mau berlibur untuk Lebaran, zonk! Kami disuruh ke bagian IGD kalau memang urgent. Setelah kami berjalan ke IGD, ternyata di RS tersebut ada IGD Persalinan! Pas lah dengan kondisi hahaha. Saya dan Arga masuk dan menjelaskan kondisi saya, kemudian bidan dan suster langsung menyuruh saya untuk berbaring. Arga kemudian menyelesaikan administrasi pendaftaran saya. Dokter kandungan ternyata sudah pulang sehingga harus di telpon kembali ke RS, untung di Madiun dimana dengan hanya menunggu 10-15 menit saja, dokter sudah ada di tempat hahahaha. 

image

Hello Baby! Sudah terlihat ya, alhamdulillah you’re all right 🙂

Selagi menunggu dokter, saya ditanyakan tentang riwayat kehamilan dan diajak ngobrol oleh bidan dan dokter koas yang jaga. Setelah itu, dokter kandungan akhirnya datang. Perut saya di USG dan dicheck kondisinya, alhamdulillah semua normal. Alhamdulillah lagi ternyata sudah terlihat fetus atau embrio di dalam kantung janin, hore! Saya disuruh banyak istirahat karena tanggal 11 Juli akan kembali melakukan perjalanan ke Bogor. Dokter dan bidan tidak mau saya kecapean karena masih trimester awal dan resiko kenapa-kenapa masih sangat besar. Saya juga tidak jadi ikut reunian keluarga Mama Madiun di Semarang, but all is for the best for the baby. Saya diberi vitamin tambahan DHA dan juga penguat kandungan. PS : harga penguat kandungan mahal ya :“’) lumayan jatah 1 bulan bisa buat beli tas Charles & Keith!

Oiya, ketika tukang pijat langganan Mama Madiun datang siangnya, saya tidak dipijat seperti biasa (padahal sudah ngidaaaaam karena capeee huhu) cuman pas diliat memang saya tidak boleh terlalu banyak naik turun. Ibu Tukang Pijat ini katanya sih punya sixth sense hehehe. Dan prediksi Ibu Tukang Pijat adalah anak saya adalah cewe! Hahahaha, too early to guess? Yaaa kita liat pada bulan ke 6 ya apakah sesuai prediksi atau tidak 😉

You may also like...

1 Comment

  1. […] boleh berpergian menggunakan pesawat. Namun ada beberapa hal yang perlu diperhatikan berdasarkan pengalaman saya mudik tahun 2016  dengan rute Lombok-Surabaya-Madiun-Solo-Bogor). Silakan disimak beberapa tips di bawah ini […]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *