Family, Parenting, Thoughts

Master of Science (Cuman) Ngurus Anak? Kenapa Nggak?

Master of Science (Cuman) Ngurus Anak? Kenapa Nggak?

Heihooo everyone! I have an exciting project nih bareng sama sesama mom blogger yang juga merupakan first time mommies! Kebetulan saya, Ella Nyonya Malas, Uchy dan Risna Nyinya sama-sama memiliki anak pertama dengan range umur yang sama. Jadi lebih singkatnya, kami bersama-sama mengarungi parenthood untuk pertama kalinya. Semuanya serba baru! Semoga Satrio, Gayatri, Alula dan Giri tetap sabar dan tabah menghadapi ibu-ibunya ya hahahaha.

Colla-blog-ration yang pertama ini dibuka dengan curhatan  kita soal menjadi working mom atau stay at home mom. Disclaimer : THIS IS NOT A MOMMIES WAR YA. Kita hanya mengemukakan POV dan pengalaman kita serta membagikan tips. Kita semua #proIbu, so full respect for all moms out there! Yang mau baca curhatan seorang working mom bisa nengok postingan Ella aka Nyonya Malas di Working Moms, Let’s Against Our Guilty Feeling!  

Me? I am now a full time stay at home mom. Part time worker (klo ada kerjaan). With a degree in
Master of Science.

Hah? Ga salah? Duh sayang gelar sih itu namanya.

Master of Science (Cuman) Ngurus Anak? Kenapa Nggak?

Photo by Freaky Diary

Well, saya memilih untuk berpihak kepada Dian Sastro (panutanquuu). Alangkah baiknya apabila seorang Ibu itu berilmu. Memiliki gelar sarjana, pascasarjana, doktor, dll itu adalah bonus. Terlepas dari gelar yang melekat, yang penting kita sebagai seorang Ibu mampu untuk mencari pengetahuan seluas-luasnya dan menerapkannya dengan baik demi masa depan anak yang lebih cemerlang. Disini yang untung anak saya loh. Dia sehari-hari nyantol sama seorang Master (of Science, bukan Master of Love ya huahahaha kzl).

Saya tidak mendiskreditkan ibu yang hanya bergelar SD, SMP, atau SMA ya. Banyak anak berprestasi yang lahir dari ibu yang tidak mengenyam waktu di bangku kuliah. Kuncinya cuman satu. Apakah seorang Ibu itu cukup visioner dan mampu mendorong serta membimbing anaknya untuk lebih baik lagi daripada dirinya? Jika anaknya tidak diberikan arahan yang jelas dan perhatian, mau sepinter apapun ibunya ya pasti anaknya tidak akan terarah. Banyak kan cerita sinteron anak dari orang kaya yang terjerumus ini itu karena kurang perhatian dan bimbingan. It’s true. Peran orang tua itu sangat penting bagi anak. Makanya saya bersyukur memiliki waktu yang banyak untuk menjadi ibu yang mengurus sebagian besar kebutuhan Satrio.

Baca : Ibu Hamil dan Menyusui Kalian Luar Biasa

Menurut saya, menjadi seorang Ibu adalah sebuah pekerjaan yang lebih daripada full time job. Bahkan
ada riset yang bilang, full time mom = 2.5 full time jobs! Jadi tuh ternyata kita seperti punya 2 atau lebih pekerjaan dan ga dibayar sama sekali. Itu lah rasanya mengurusi rumah dan anak secara bersamaan. Belum kalau anaknya banyak. Bayangkanlah…. Jadi kalau ada yang nyeletuk “sayang gelar kan udah sekolah tinggi-tinggi”, hmmm ga juga kok. Pengalaman kuliah saya dan gelarnya ternyata berfungsi banget loh dalam kehidupan sehari-hari menjadi Ibu. Ga percaya?

1. Mampu multitasking

Master of Science (Cuman) Ngurus Anak? Kenapa Nggak?

Photo by :  Pinterest

Oke ini memang bakat alamiah wanita ya. Karena laki-laki banyak yang gagal di bidang ini hahahaha. Saat kuliah, terutama kuliah S2, beban tugas yang diberikan sangaaat banyak Belum presentasi. Belum pengamatan (di lapang atau di lab). Itu baru satu mata kuliah. Coba dikali 3. Dalam satu semester.

Kurang lebih itulah yang saya rasakan saat menjadi ibu. Sangat banyaaak tugasnya mulai dari bikin MPASI, mandiin bayi, kasih makan bayi, bersihin diapers bayi, bersiin mainan bayi dan itu bisa beberapa kali dalam sehari. Setiap hari. Sampai si bayi mampu melakukan semuanya sendiri.

2. Memiliki manajemen waktu dan perencanaan yang bagus

Master of Science (Cuman) Ngurus Anak? Kenapa Nggak?

Photo by :  BiggerPockets

Poin ini terkait dengan poin multitasking di atas nih. Saya merasakan ilmu manajemen waktu (biar ga pingsan dibawah terpaan tugas-tugas) dan perencanaan sewaktu kuliah sangat membantu dalam membina rumah tangga. Setiap hari saya sudah planning mau memberikan MPASI apa ke Satrio pada beberapa hari sebelumnya. Dan itu harus selaras dengan apa yang saya dan Arga makan sehari-hari (untuk mempermudah, jadi sekalian beli dan masak #tipsMPASI).

Sejak bangun tidur sudah teringat jelas jam-jam berapa harus mulai mencuci baju, memasak MPASI, membangunkan Satrio, memandikan bayi, dsb. It’s super organized. Bahkan keuangan keluarga ada sheet Excel khusus yang super detail (ini bikinan adik saya, si Bendahara organisasi hahaha) untuk memudahkan mengatur keuangan keluarga. Ini yang membuat hidup lebih gampang. Selain itu, dengan ritme yang teratur, anak juga lebih nyaman dan diajarkan untuk hidup teratur juga. Win-win solution.

3. Lebih selektif dalam menerima informasi

Master of Science (Cuman) Ngurus Anak? Kenapa Nggak?

Bapak saya pernah bilang, kalau kuliah jangan telan mentah-mentah perkataan dosen. Belum tentu
benar. Loh kok gitu? Ketika kita masuk perkuliahan terutama tingkat pascasarjana, kita ditantang untuk mengetahui kenapa dan bagaimana suatu teori itu berjalan. Jika kita melakukan penelitian dan ternyata menemukan hal baru, ini yang penting dan berguna. Tinggal ditulis di jurnal terus menang Nobel (ya ga segampang itu sih hahaha). Jadi kita harus selalu melakukan tinjauan pustaka dan baca, baca, baca teori dan jurnal yang terbaru. Ilmu akan selalu berkembang.

Nah disini untungnya bagi kehidupan seorang ibu di jaman millenials berjaya. SAYA GA MENTAH MENTAH NELEN BERITA. Apalagi kalau berita modal headline heboh. Saya selalu check dan recheck, meskipun pake Google juga. Penting bagi kita untuk riset apa yang kita baca terlebih dahulu di web yang terpercaya. Contohnya pada saat saya bingung mau suntik DPwT (yang persentase panas tinggi) atau DpaT (persentase panas rendah). Setelah ubeg ubeg jurnal WHO, akhirnya sreg sama DPwT walaupun resiko anak demam lebih tinggi. Kenapa? Karena imunitas DPwT lebih bagus daripada DpaT. Dan sudah ada penelitiannya loh. Valid. Hal ini juga berlaku ketika saya memilih gendongan, metode MPASI, dll.

Baca : Perlukah Imunisasi & Vaksinasi?

4. Memiliki keingintauan yang tinggi.

Master of Science (Cuman) Ngurus Anak? Kenapa Nggak?

Photo by :  Pinterest

Sesuai dengan arahan agama Islam untuk tidak pernah berhenti belajar. Sampai sekarang saya orangnya super kepo (ke arah yang positif ya). Rasa ingin tau yang tinggi dan kebiasaan untuk selalu belajar (iya lah udah hampir 20 tahun kerjaannya sekolah ama kuliah hahahaha) melekat pada diri saya. Contohnya pas Rio mau mulai MPASI. Duh beli buku MPASI sampai 4 dan semua video dr. Tiwi soal MPASI saya babat abis. Capek? Nggak tuh. Saya senang kok. Malah jadi me-time yang produktif. Bisa menghasilkan ilmu baru yang berguna untuk diterapkan ke anak. Win-win solution lagi.

Jadi masih menyesal sekolah tinggi-tinggi dan sekarang hanya menjadi seorang Ibu untuk Satrio?

Jujur aja, kadang kalau sedang meratapi nasib sendiri di malam hari suka kepikiran juga. Saya sekarang hanya part time mom blogger, dan full time mommy yang sedang menunggu pembukaan lowongan dosen di suatu perguruan tinggi negeri berbasis pertanian di Bogor. Yang notabene ga tau kapan dibuka. Yang notabene saingannya banyak (masuk waiting list sisss). Kadang ingin juga pengen kerja kantoran biar punya penghasilan sendiri, ga hanya menunggu semester baru dan menjadi asisten dosen saja atau nunggu panggilan MC dalam bahasa Inggris (klo ada yang perlu, call me! *promosi*).

Baca : My Pregnancy Story: I’m Giving Birth!

Tapi kalau dipikir-pikir lagi, penghasilan itu akan tertuju kepada anak kita juga kan. Kebahagiaan anak adalah kebahagiaan orang tua. Waktu dan perhatian adalah dua hal yang paling berharga yang bisa diberikan orang tua kepada anaknya, yang akan menjadi hal yang lebih positif dikemudian hari. Setelah inget semua itu saya istighfar dan bersyukur. Saya disuruh mengurus anak dulu sebaik mungkin. Nikmati dan jalani saja prosesnya karena Allah adalah sebaik-baiknya pengatur urusan dunia. Allah choose me to do this job, so I have to give it the best I can. After all, Allah chooses us to be a mother. Itu berarti Allah percaya kita mampu menjadi Ibu yang baik, baik working mom atau stay at home mom.

Being a mom is a wonderful blessing for us and also for our kids, so be a good one. Semangat ibu-ibu semuaaaaa!

Master of Science (Cuman) Ngurus Anak? Kenapa Nggak?

You may also like...

Leave a Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *