Family, Thoughts

Is Marriage an Achievement? My Opinion

Beberapa hari yang lalu sempet heboh mengenai komentar seorang wanita feminis. Intinya dia mengkritik seseorang yang menyatakan bahwa prestasi terbesar dalam hidup seseorang itu adalah menikah, memiliki anak dan berkeluarga. Nah si mbak ini ga setuju menikah dan punya anak itu adalah sebuah greatest achievement in life. She said it is self centered and lazy. This way of thinking is toxic for society, she added. Ini quote semua loh ya, ada screenshotnya (yang nggak akan saya post disini).

Disclaimer dulu. First of all, dia post komentarnya di instagram stories sih jadi opini dia sah sah saja. Tapi karena komennya dan tagline bahwa dia feminis ini membuat saya gatal berkomentar juga, di instastories saya hihi. Jadi sah sah juga. Semua orang bisa beropini dan tentu opini masing-masing berbeda. That what makes this a great discussion. Silahkan baca opini si nyonyamalas alias Ella di link Menikah, The Greatest Achievement? ya.

Si mbak menaruh quote menohok yang intinya bahwa gembel pinggir juga bisa menikah dan punya anak. Dan menambahkan bahwa greatest achievement itu adalah sejenis sekolah tinggi, berhasil berwirausaha, beliin runah buat orang tua, bikin buku, dapat beasiswa, have your dream job, semua itu BUT STRICLTY NOT getting married and having kids.

Tapi setelah itu dia bilang dasarnya bilang hal itu adalah karena banyak banget wanita yang menaruh romance diatas semua personal values. Baper dan super sedih ketika hubungan berakhir. Dan menjelaskan bahwa kita akan menjadi better partner ketika kita mengerjakan our own true calling.

Ada beberapa bagian yang saya setuju seperti yang disebutkan diatas. Romance is not everything. Wanita perlu tau bahwa hidup tidak akan berakhir ketika putus dengan si pacar atau ketika pelakor siap menerjang. Romance tidak boleh diatas personal values.


Jadi menikah itu sebuah achievement alias sebuah prestasi atau tidak?

Jika kita men-google arti kata achievement, ada dua definisi. Yang pertama adalah a thing done successfully, typically by effort, courage, or skill, sesuatu yang sukses dilakukan dan memerlukan usaha, keberanian atau kemampuan. Yang kedua adalah the process or fact of achieving something, atau proses atau fakta telah berhasil memerlukan sesuatu.

Dalam bahasa Indonesia, prestasi adalah hasil yang telah dicapai, dilakukan dan sebagainya, meskipun banyak definisi dan macamnya.

So in my opinion, yes. Marriage, having kids and raising a family is an achievement.


Bagi saya, menikah dan punya anak, that’s something. Ga semua orang siap untuk menikah dan punya anak. Apalagi ketika kita menjalankan semuanya dengan bahagia, sehat sentosa dan berkecukupan. Girl, that’s a damn feat!

Not everyone have the courage to settle down with that one person.
Not everyone is ready to care for a baby.
Sebaliknya, bahkan beberapa orang rela melakukan apa saja untuk mendapatkan sebuah bayi mungil yang lucu.
And let me tell you, it is not easy to settle down taking care of kids all day everyday, apalagi bagi wanita yang terbiasa aktif hilir mudik ikut ini itu kemana-mana.

Baca Master of Science (Cuman) Ngurus Anak? Kenapa Nggak?

There are sacrifices to make. Baik dari pihak laki-laki maupun perempuan, untuk membuat suatu keluarga dan pernikahan yang harmonis. And that proves that this achievement is not selfish AND lazy, yet alone toxic. Sooo, mbak, maaf ya kali ini saya tidak mendukung statement Anda. Oiya, endingnya si mbak minta maaf sih hehehe meskipun sudah bikin heboh sosial media. Me on the other hand? Jadi gatel pengen nulis opini juga di instastories maupun di blog. Siapa tau viral yekan? Hahaha nah, I’m just trying to get my point of view out. 😀

Nah kalau kalian para pembaca, menurut kalian nikah, punya anak dan memulai keluarga itu sebuah prestasi ga sih? Silahkan komen dibawah yaa. No drama and war tralala, let’s respect other people choices and embracing differences in opinion. Cheers! 🙂

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *